Selasa, 06 Maret 2018

Me Ji Ku Hi Bi Ni U

P


Mejikuhibiniu adalah sebuah permainan yang dilakukan empat - tujuh orang pemain . umumnya dilakukan dengan mengucap mejikuhibiniu lalu setiap pemain menjulur jari jarinya lalu bila sudah sambil menunjuk jari jari pemain sambil mengucap mejikuhibiniu lalu pas sudah sampai hitungan terakhir berarti ialah yang menjadi pemenang pertama dan seterusnya dan bila yang terakhir tidak menang berati ialah yang mejadi kalah dan harus kena hukuman .

Sering kali tanpa disadari dalam proses mengingat sesuatu kita menggunakan “metode chunking”. Seperti halnya masa kecil dulu, saat kita bermain bersama teman-teman dengan menyebutkan warna-warna. Kita menyebutkan warna-warna dengan jembatan keledai, seperti “Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U”, jika diurai akan mengandung beberapa warna, yakni merah, jingga, kuning, biru, nila dan ungu. Atau mungkin untuk menghafalkan Dasa Dharma Pramuka, kita tidak perlu lama-lama dan menghabiskan waktu untuk mengingat kalimat tiap point satu persatu. Tetapi cukup dengan menyebut awal kalimat dari tiap point dan dihubungkan menjadi satu kalimat yang unik, misalnya “Ta-Ci-Pa-Pa-Re-Ra-He-Di-Ber-Su”

Metode “chunking” adalah mengubah huruf-huruf menjadi unit-unit kata yang bermakna. Hal ini dapat membantu kita –Short term memory/STM- dalam meproses informasi dalam jumlah banyak tanpa menyebabkan “kemacetan” dalam rangkaian pemrosesan informasi (Solso dkk,2007). Metode chunking berawal dari pernyataan Miller yang menyimpulkan bahwa STM memuat tujuh unit. Keterbatasa STM ditemukan dalam eksperimen Sir William Hamilton yang mengatakan, “Jikalau Anda melemparkan segenggam lereng ke lantai, Anda paling-paling hanya mampu mengamati, secara sekaligus, enam kelereng –atau paling banyak tujuh kelereng- tanpa rasa bingung”. Dengan begitu, Miller menyusun hipotesis bahwa kapasitas kita untuk memproses informasi memiliki batas sekitar tujuh unit. Keterbatasan-keterbatasan tersebut diakibatkan oleh adanya sejumlah mekanisme yang bersifat mendasar dan umum (Solso dkk, 2007).


“Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U” ini jika diurai mengandung tujuh warna. Hal ini senada dengan pernyataan Miller mengenai kapasitas memproses informasi sebanyak tujuh unit. Jika kita diberikan stimuli beberapa huruf E-L-B-I-I-R-T-O, kita akan kesusahan dalam menghafal, tetapi apabila huruf-huruf tersebut disusun sehingga membentuk suatu pola maka kita akan mudah menghafal, misalnya BELI ROTI. Hal itu menandakan bahwa kita lebih menyukai sesuatu yang sifatnya jelas dan bermakna daripada stimulus yang tidak beraturan dan tidak bermakna. Uniknya, metode “chunking” ini membuat kita cepat dalam mengingat objek, tidak butuh waktu yang relativ lama. Cukup dengan menyusun kalimat dengan pola yang bermakna akan mempermudah kita dalam mengenali objek.


Materi di atas saya ambil dari https://www.kompasiana.com/pheeypheey29/me-ji-ku-hi-bi-ni-u-adalah-metode-chunking_5528fac8f17e6117278b456d
http://cheandysetyawan2.blogspot.co.id/2014/02/permainan-waktu-sekolah-dasar-masa-masa.html?m=1

Minggu, 04 Maret 2018

Permainan Tradisional Congklak

BERMAIN CONGKLAK

Pengertian Congklak

Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil.

 Nama Congklak di Berbagai Daerah 

Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di beberapa daerah di Sumatera yang berkebudayaan Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Anggaleceng, dan Nogarata. 
Permainan ini di Malaysia juga dikenal dengan nama congkak, sedangkan dalam bahasa Inggris permainan ini disebut Mancala. 

Cara Bermain

Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan kita menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu atau plastik, sedangkan bijinya terdapat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lubang yang terdiri atas 14 lubang kecil yang saling berhadapan 2 lubang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil di sisi pemain dan lubang besar di sisi kanannya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lubang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang memulai dapat memilih lubang  yang akan diambil dan meletakkan satu ke lubang di sebelah kanannya dan seterusnya berlawanan arah jarum jam. Bila dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lubang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lubang kecil  disisinya. Bila habis dilubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lubang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lubang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak. 


Materi ini saya ambil dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Congklak